Medan | Potret RI - Untuk diketahui, masalah pengosong rumah di Asrama Widuri itu berawal dari adanya upaya penggusuran paksa oleh Kodam I/BB pada 2007 lalu. Adapun latar belakang Asrama Widuri yang berlokasi di Lingkungan II dan XV Kelurahan Harjosari II, Medan Amplas itu, dibangun oleh Kolonel Maludin Simbolon pada 1956 dengan menggunakan dana pribadi untuk tujuan menyatukan seluruh anggota Kolonel Maludin yang saat itu menyebar ke mana-mana.
Demikian diungkapkan, Martinus Hutagaol, seorang warga Asrama Widuri kepada SUMUT24, Minggu (3/1). Menurut Martinus, pasca pengosongan rumah yang dilakukan sepasukan oknum tentara, Selasa (13/10) tahun lalu itu, kini kerap terjadi intimidasi kepada warga Asrama Widuri yang dilakukan oknum tentara inisial A dengan melakukan ancaman akan menggusur paksa warga dengan membawa pasukan tentara yang mengatas namakan Panglima KODAM I/BB. Martinus menuturkan oknum tentara inisial A dengan pangkat Serda di Kesatuan Logistik KODAM I/BB.
Semboyan TNI yang sangat terkenal dan disegani Kartika Eka Paksi Burung Gagah Perkasa yang tanpa tanding menjunjung tinggi Keluhuran Nusa dan Bangsa serta keprajutitan sejati itu sepertinya sudah Pudar tergerus dengan Masa.
Bintang dengan Sudut Lima yang diartikan Kesejatian dan tujuan tertinggi yaitu Keprajuritan sejati yang dijiwai Pancasila sebagai Dasar Negara dan Falsafah Hidup Bangsa, ini semakin jauh dari harapan akan keprajuritan sejati itu sendiri, dengan Radikal dan Kekuasaan dibalik Kekuatan dibelakangnya, dan sekelompok orang orang yang tidak mengindahkan Pancasila dan UUD 1945.
"Kita Bangga akan Prestasi Tentara Indonesia Sebelumnya, yang memiliki pengayoman dan Cinta akan nilai nilai Keluhuran. Namun apa yang terjadi sekelompok TNI yang mengatasnamakan Negara belum bisa menyelesaikan masalah dengan sangat persuasif terhadap warga dan masyarakat", ungkap ketua Tim LBH Kap-Ampera (Lembaga Bantuan Hukum Kesatuan Aksi Amanat Penderitaan Rakyat).
Sementara itu Kepala Penerangan Daerah Militer (Kapendam) I/BB, Kolonel Enoh Solehuddin menegaskan, beberapa waktu yang lalu menyatakan penertiban di Asrama Widuri dilakukan demi menyelamatkan aset negara. Menurutnya, dari 590 KK yang ada, terdapat 93 rumah dinas yang harus segera dikosongkan karena tidak sesuai ketentuan yang berlaku. "Kita sudah melakukan pendekatan persuasif kepada penghuni agar mengerti. Banyak prajurit TNI yang masih mengontrak rumah di luar. Kami juga mengerti apa yang bapak/ibu rasakan," ucap Enoh.
Kesemuanya itu ada pada pada pikiran warakawuri dan anak anak pejuang TNI yang berkorban Nyawa serta Harta Benda Membela Kedaulatan Negara Republik Indonesia, sangat ironis memang, sangat sinis memang bila dipandang dari sudut keharmonisan. "Sepertinya Bapak Bapak itu tidak merasakan nantinya, dan dendam pasti ada akan tindakan mereka, mereka tidak mengetahui apa yang kami rasakan, dan tidak mengetahui benar sejarah akan tempat tinggal yang kami tempati sekarang ini",ungkap penghuni Asrama Widuri yang tidak ingin disebutkan namanya karena takut akan intimidasi dari Oknum TNI.
"Buktinya, seorang oknum tentara yang diketahui bernama Abdi berpangkat Sersan Satu (Serda) dituding warga telah melakukan tawar menawar harga atas rumah yang akan dikosongkan. Anehnya, rumah yang akan dikosongkan itu, merupakan rumah pilihan yang dianggap bagus, besar dan mewah. Pantauan di lapangan,pengosongan rumah ricuh .Puluhan warga berusaha memasuki blokade segerombolan tentara yang akhirnya, keduanya pun saling dorong", ungkap Warga Ex Asrama Widuri yang tidak ingin disebutkan namanya.
"Jika ada yang melawan, kita berusaha tetap melakukan pendekatan agar tidak terjadi gesekan. Karena data yang kami peroleh, yang tinggal di rumah dinas Asrama Widuri merupakan generasi ke berapa, sudah cucu atau cicit prajurit yang pensiun," tambah Enoh.
Selain itu, Enoh juga menyebut segera melakukan tindakan serupa di banyak asrama tentara di wilayah kekuasaan Kodam I/BB. Belum lagi keresahan dan ketakutan warga Asrama Widuri, Mariendal surut saat pengosongan rumah yang dilakukan sepasukan oknum tentara waktu lalu itu berkurang, kini warga semakin resah dan takut dengan adanya “malaikat pencabut rumah” yang kini berkeliaran di Asrama tersebut.
Ironisnya, Martinus juga menuturkan bahwa Serda A juga mengaku sebagai “malaikat pencabut rumah” di Asrama Widuri, Mariendal. Karena itu, Martinus mengaku, warga Asrama Widuri. Mariendal kini resah dan takut. Walaupun begitu, warga Asrama Widuri akan melakukan perlawanan kepada oknum tentara yang menyalahi tugas dan wewenangnya.
“Malaikat pencabut rumah tidaklah layak disandang oleh prajurit TNI-AD,” tegas Martinus. Terkait pengosongan rumah tersebut, Martinus menuturkan bahwa hal tersebut dilakukan dengan dalih penertipan asrama dengan adanya narkoba. Ternyata, pihak KODAM berkeinginan akan menjual Asrama tersebut kepada pengembang.
Hal tersebut dibuktikan dengan adanya peninjauan lokasi oleh pihak sekolah Prime One School (POS) bersama beberapa oknum tentara. Sementara itu, Martinus juga mengaku bahwa dirinya sudah melaporkan permasalahan pengosongan rumah di Asrawa Widuri itu ke Wakil Presiden RI, Menkopolhukam, Mengan dan Dewan Ketahanan Nasional.
Namun, dikarenakan Kolonel memberontak dan melarikan diri, Asrama Widuri dihuni oleh Yonif 121/MK lalu Yonif 126/KC dan terakhir Brigif 7/RR. Setelah Brigif 7/RR dilikuidasi pada 1984, asrama tersebut tidak dihuni oleh kesatuan manapun dan sejak 1985, warga sudah membayar PBB sendiri. Selanjutnya, pada 1998, Kolonel Maludin Simbolon menolak permintaan keluarganya untuk mengelola asrama tersebut dan sepenuhnya menyerahkan hak atas asrama tersebut kepada para penghuninya.
Namun, pihak Kodam tidak mengakui latar belakang tersebut yang dalam hal ini merupakan sejarah berdirinya asrama Widuri itu. Anehnya, walaupun warga pada 2009 lalu menempuh jalur hukum ke pengadilan negeri untuk mempertahankan lahan dan rumah yang sudah berpuluh tahun dihuninya itu, pihak Kodam masih tetap melakukan upaya penggusuran.
Untuk kesekian kalinya, Selasa (16/2/2016) sekira pukul 09.00 WIB, sepasukan oknum tentara kembali melakukan pengososngan rumah di Asrama Widuri, Marindal. Medan. Padahal, Asrama Widuri yang berlokasi di Lingkungan II dan XV Kelurahan Harjosari II, Medan Amplas itu.
Terkait atas permasalahan yg dialami ibu Dewi dan anaknya Yudi Penghuni Ex Asrama Widuri yg DIKRIMINALISASI Oleh Pihak Oknum Kodam I /BB Yg kini Mendekam di POLSEK PATUMBAK , maka TIM LBH KAP AMPERA JAKARTA yg dipimpin BINSAR EFFENDY HUTABARAT Didampingi H.M.Agussyah dgn rasa prihatin mengunjungi bu Dewi di Polsek Patumbak, dan dalam waktu dekat akan menghadap PRESIDEN RI, MENKO POLHUKAM, MENHAN R.I, PANGLIMA TNI, MENSEKNEG , KASAD, PANGDAM I/BB dan KOMNAS HAM, ini namanya Orang sudah susah malah DIANIAYA, Jadi Oknum yg MENGKRIMINALISASI bu DEWI Dan Anaknya PANTAS dilaknat oleh Allah" tegas Ketua Tim LBH
"Kami ingin cepat Keluar Dari sini, Saya memiliki anak masih Kecil, Tindakan Mereka Sudah Sangat jauh dari harapan kami",ungkap yudhi saat di wawancara di Polsek Patumbak,"Saat pengosongan rumah kami saya sempat dilakukan Pemukulan Oleh Oknum TNI itu, kalau tidak ditolong teman saya mungkin saya sudah tidak bisa melindungi Ibu Saya ini",Pungkasnya Lagi.
Pengosongan Sarat Memperkaya Diri dengan Dalih untuk Penyelamatan Asset Negara, Anehnya, dengan dasar surat perintah yang ditandatangani Asisten Logistik, Letkol Anggoro Nur Setiawan SIP MSi dan berstempel serta mengatasnamakan Panglima Kodam I/BB, segerombolan pasukan tentara tersebut masih ngotot melakukan pengosongan rumah di asrama tersebut.
Ironisnya, Telah Terjadinya penzoliman terhadap warga Ex Asrama Widuri, Namun harapan demi harapan dari Wakil Rakyat belum lagi Nampak Jelas dimata Masyarakat, yang menyebabkan ada anak anak yang tidak dapat sekolah kembali, dan anak yang masih kecil yang masih jadi tanggung jawab orang tuanya, sedangkan Orang tuanya di zalimi dengan dilakukan intimidasi oleh Oknum TNI dengan memasukkan Ibu yang seorang Janda dan Anak Laki Lakinya Ke Penjara yang sampai sekarang Masih berada di Polsek Patumbak dengan tuduhan yang tidak semestinya di tuduhkan kepada Mereka. Hal ini sudah melanggar Hak Azasi Manusia.
Tuduhan terhadap Warga atas Perusakan yang dilakukan diatas dan didalam rumahnya yang dibangunnya sendiri, direnovasi dengan keringat dan jerih payahnya sendiri itu diusir Paksa untuk diperjual belikan oleh Oknum yang berpangkat tinggi di wilayah terotorial Bukit Barisan.
Sedangkan seorang warga yang mengaku bernama Sondang Hutagalung mengatakan, tindakan TNI anarkis dan telah melawan peraturan pemerintah Jokowi."Karena pemerintah Jokowi telah memberi solusi, penggusuran ini ada unsur, asrama ini akan dijual," ucapnya. Selain itu, beberapa warga menilai surat perintah yang ditandatangani Aslog Letkol Anggoro Nur Setiawan SIP MSi itu tidak layak dikeluarkan mengingat proses sejarah Pendirian Asrama dan tidak terdaftarnya Ex Asrama Widuri di BPN (2007-red).
"Eksekusi pengosongan rumah ini menunjukkan bahwa mereka (Kodam-red) berupaya mengganggu ketenangan warga,” ungkap beberapa warga. Untuk diketahui, sengketa tanah dan bangunan Asrama Widuri dimulai dengan adanya upaya penggusuran paksa oleh Kodam I/BB pada 2007 lalu. Saat itu, warga pun melawan karena sejarah asrama berbeda dengan asrama lainnya yang dibangun oleh negara.
Adapun Asrama Widuri yang berlokasi di Lingkungan II dan XV Kelurahan Harjosari II, Medan Amplas, dibangun oleh Kolonel Maludin Simbolon pada 1956 dengan menggunakan dana pribadi yang tujuannya untuk menyatukan seluruh anggota Kolonel Maludin yang selama ini menyebar ke mana-mana. (su.red)

+ comments + 1 comments
Ulah KODAM I/BB yang melakukan penculikan dan kriminalisasi sangat tidak dapat di tolelir....
Hari gini masi ada penculikan.....?
Sepertinya ini tentara ORBA bukanlah tentara RI.
Disinilah bedanya, bekerja untuk Negara atau mangabdi untuk Negara...?
Klu bekerja untuk Negara "dapat diduga mengatas namakan Negara untuk memperkaya diri sendiri dan/atau kepentingan lain untuk kebutuhan karir".
Tapi klu mengabdi untuk Negara "inilah yg disebut tanpa tanpa pamrih...... Rela mengorbankan dirinya untuk ke utuhan dan keharmonisan hubungan Negara dan Rakyat"
Ulah seperti inilah yang harus dihentikan...!!!
Menculik, menganiaya, mengintimidasi dan mengkriminalisai. Ini tidak manusiawi.
Oknum seperti ini biasanya bekerja selalu mengatas namakan negara.....
Seharusnya Pemerintah hadir di peristiwa ini.
Post a Comment